Sabtu, 07 Oktober 2017

EKSPLOITASI ISU SARA

Dizaman rezim orde baru isu yg terkait suku, agama dan rasial ( SARA ) adalah masalah yg dipandang sangat sensitif yg dapat menimbulkan berbagai gejolak dan gesekan ditengah masyarakat yg sangat majemuk ini. Oleh sebab itu rezim yg berkuasa saat itu sangat melarang media cetak dan elektronik memberitakan apabila terjadi satu konflik yg terkait isu Sara karena ditakutkan akan merembet kedaerah atau wilayah lain yg pada gilirannya mengganggu persatuan dan kesatuan kebangsaan kita.

Slogan keBhinnekaan sangat gencar dikampanyekan pemerintah lewat media Televisi Republik Indonesia ( TVRI ) sebagai media resmi pemerintah saat itu melalui acara Bhinneka Tunggal Ika yg menampilkan acara kebudayaan dalam bentuk tarian, pakaian adat dan lagu daerah masing-masing propinsi se Indonesia sehingga arogansi suku dan egoisme kedaerahan bisa diminimalisir sedemikian rupa. Acara itu malah membangkitkan kebanggaan keIndonesiaan dengan berbagai macam corak budaya dan bahasa. Khusus masalah agama saking sensitifnya sampai-sampai pemerontah mempopulerkan Trilogi Kerukunan.

Dalam era reformasi ini keterbukaan sangat lebar seperti tanpa batas sehingga orang lupa hal-hal yg ditabukan dan yg sensitif pun dieksplor tidak terkecuali isu Sara demi kepentingan sesaat, kelompok bahkan untuk kepentingan politik praktis orang tertentu. Awal reformasi masih terngiang konflik Ambon dan Poso yg memakan korban yg tidak sedikit walau akhirnya bisa diatasi namun meninggalkan luka bagi bangsa ini. Isu agama tentang kelompok mayoritas versus minoritas kembali dibangkit-bangkitkan sehingga terlihat ada sekat-sekat dimasyarakat yg tadinya hampir tak kelihatan menonjol jaman dahulu.

Semangat Toleransi sepertinya sangat perlu disegarkan terus terutama untuk generasi muda yg tidak merasakan konflik-konflik, lebih parahnya lagi adanya kelompok teroris yg berpaham radikal menghalalkan cara-cara yg intoleran untuk menjalankan misinya. Mungkin banyak yg baik-baik dijaman orde baru dulu perlu direfresh kembali tanpa perlu canggung-canggung karena itu produk orde baru. Semua terpulang kembali kepada komitmen kebangsaan kita sebagai anak negeri yg mencintai negeri yg kita banggakan bersama seiring pula masih adanya tokoh-tokoh yg tampil menyejukkan suasana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar